Entri Populer

Minggu, 08 Agustus 2010

Sejarah Kebudayaan Islam

BAB I
KETELADANAN RASULULLAH DALAM MEMBINA UMAT
A. Sejarah Rasulullah SAW pada Periode Mekah dan Madinah
Sebelum Islam datang, bangsa Arab pada umumnya berbudi pekerti kurang terpuji, suka berjudi, berperang antarsuku, dan sebagainya. Setelah lslam datang, mereka dibimbing untuk memperbaiki budi pekertinya. Apabila sebelumnya mereka suka pertumpahan darah, permusuhan antarsesama manusia, berjudi, mabuk-mabukan, perzinahan dan sebagainya, kini mereka berubah menjadi bangsa yang suka memelihara persaudaraan, menghormati sesama manusia, dan sikap baik lainnya. Usaha panjang Rasulullah yang diawali dari Mekah dan berkembang di Madinah telah membuahkan hasil. Tidak hanya masyarakat Arab saja, tetapi masyarakat dunia telah merasakan bimbingan dakwah lslam yang mampu membawa umat manusia ke tempat yang paling mulia.
1. Ciri-Ciri Masyarakat yang Dihadapi Rasulullah saw pada Periode Mekah
Mekah adalah kota penting di Jazirah Arab, pusat perhatian, pusat kegiatan, pusat perdagangan, dan pusat keagamaan masyarakat Jazirah Arab. Mekah juga dianggap sebagai ibukota seluruh Jazirah Arab disebabkan ada Ka'bah yang merupakan tempat suci QS Asy Syuura:7
      •             •    
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.”
Kota Mekah terletak di antara dua gunung, yaitu gunung Abi Qubais dan gunung Ahmar atau A'raf. Namun dengan adanya Ka'bah di lembah yang tandus itu maka kemuliaan yang diperoleh kaum Quraisy dan bangsa Arab di sekitarnya bertambah pula. Adanya jaminan keamanan yang penuh menyebabkan daerah ini sangat disenangi oleh kabilah-kabilah, baik yang berada disekitarnya maupun yang jauh untuk pindah ke Mekah. Dengan demikian pembangunan pun makin bertambah pesat, sehingga-rumah, gedung juga semakin bermunculan di mana-mana, menggantikan rumah Badui yang berbentuk kemah/tenda.
Yang mengadakan pembaharuan kota Mekah adalah Qushaiy bin Killab. Beliau menggalakkan bangsa Quraisy untuk tinggal di Mekah. Untuk itu beliau membangun beberapa perkampunnan baru. Beliau juga membangun beberapa pasar agar penduduknya dapat berdagang di dalam kota Mekah. Karena itulah mereka selalu bersatu dan saling menjaga keamanan kota Mekah.

Adapun ciri-ciri masyarakat Mekah sebelum lslam dapat disampaikan sebagai berikut:
a. Perekonomian
Bangsa Arab Quraisy sangat terkenal dalam dunia perdagangan. Mereka melakukan perjalanan dagang dua kali dalam setahun, yaitu ke negara Syam pada musim panas dan ke Yaman pada musim dingin. Hal seperti ini telah diabadikan Allah dalam firmannya: QS Al Quraisy 1-4
 •                   
1. karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas
3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah).
4. yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.

Di Mekah terdapat pusat perdagangan, yaitu pasar Ukkaz, yang dibuka pada bulan-bulan tertentu, yakni bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharam.
b. Politik
Masyarakat Arab masa jahiliyah tidak memiliki sistem pemerintahan yang mapan, mereka hanya mempunyai pemimpin yang disebut syeikh atau amir yang mengurusi perang dan pembagian harta rampasan perang. Diluar itu Syeikh tidak mempunyai kekuasaan mengatur anggota kabilahnya.

c. Moralitas
Selain sifat-sifat mulia yang dimiliki masyarakat Mekah, ada juga sifat atau moral pada jaman Jahiliyah yang sangat memprihatinkan. Mereka suka berjudi, minum khamr, pelacuran, merampas harta orang lain dengan cara batil, membunuh orang secara zalim, dar perbuatan keji lainnya.

d, Akidah
Masyarakat Mekah adalah penyembah berhala, jumlah berhala yang ada di dalam Ka'bah dan sekitarnya ada tiga ratus enam puluh buah. Berhala yang paling terkemuka bernama Hubal. Di dekat Bukit Aratah terdapat patung Uzza yang dianggap sebagai berhala yang terbesar, sehingga masyarakat Mekah apabila mengundi nasib dengan azlam, mereka lakukan di depan Uzza. Demikianlah keadaan kota Mekah menjelang diutusnya Nabi Muhammad saw ke dunia.
Walau ada hal-hal yang kurang baik, tetapi ada kebaikan yang menjadi ciri masyarakat Mekah, yakni mereka selalu menghafal silsilah keluarganya sampai urutan atas. Demikian pula dalam bidang sastra, mereka terkenal sangat pandai mereka mempunyai kebiasaan menyaksikan pegelaran seni atau puisi yang diselenggarakan di pasar-pasar seperti pasar Zulmajaz dan Ukaz. Syair atau puisi yang terbaik akan digantungkan di dinding Ka'bah agar bisa dibaca banyak orang sebagai penghargaan atas prestasinya. Hal ini disebut dengan istilah Muallaqah.

2. Ciri-Ciri Masyarakat yang Dihadapi Rasulullah pada Periode Madinah
Madinah dahulu bernama Yatsrib, terletak di daerah Hijaz, bagian dari Semenanjung Arab yang terletak diantara dataran tinggi Nejd dan daerah Pantai Tihamah. Madinah tanahnya relatif subur, terletak 275 km dari Laut Merah. Masyarakat Madinah agak berbeda dengan Mekah. Hal ini dikarenakan kondisi geografis dan percampuran budaya masyarakatnya, walau ada beberapa persamaan.
Adapun ciri-ciri masyarakat Madinah adalah sebagai berikut.
a. Dari segi sifat dan sikapnya
Masyarakat Madinah lebih halus daripada masyarakat Mekah. Hal ini dikarenakan masyarakat Madinah kebanyakan berasal dari Yaman yang terkenal halus, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi bahwa masyarakat Madinah mempunyai hati lunak dan lembut, sesuai firman Allah dalam Q.S Al Hasyr ayat 9.
                                
“dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”
b. Sosial Kemasyarakatan
Selain bangsa Yaman juga terdapat bangsa Yahudi yang mendominasi masyarakat Madinah, dan tiga kabilah dari Mekah, yakni Bani Qunaiqa, Bani Quraidzah, dan Bani Nadhir. Adapun suku asli Madinah adalah suku Aus dan Khazraj, kedua suku ini tidak jarang terlibat konflik, apalagi dengan adanya upaya adu domba yang dilakukan oleh bangsa Yahudi.


c. Akidah
Kepercayaan masyarakat Madinah hampir sama dengan masyarakat Mekah, yakni menyembah berhala

d. Ekonomi
Perekonomian masyarakat Madinah bersandar pada bercocok tanam. Hal ini dikarenakan Madinah tanahnya relatif subur dengan hasil kebunnya anggur dan kurma.

e. Kepemimpinan
Sebelum kedatangan Rasulullah saw, Yatsrib tidak memiliki pemimpin, yang ada hanyalah pemimpin-pemimpln suku yang memlkirkan kepentingan sukunya masing-masing. Mereka saling bersaing untuk menanamkan pengaruhnya di masyarakat, tidak heran bila sering terjadi peperangan antarsuku. Saat itu bangsa Yahudi memegang kendali politik dan ekonomi Yatsrib, dan terus berlangsung hingga awal kedatangan lslam. Mereka menguasai sebagian besar tanah subur dan oase-oase yang ada di Yastrib. Dari segi jumlah populasi, bangsa Yahudi berkembang hampir tidak kurang dari separuh penduduk. Hal lni menyebabkan terjadinya ketegangan dan konflik antara Arab dan Yahudi yang berkepanjangan,

3. Sejarah Dakwah Rasulullah pada Periode Mekah
Keprihatinan Rasulullah melihat keadaan masyarakat ,Quraisy Mekah seperti dijelaskan di atas, menyebabkan Rasulullah malakukan tahanuts di Gua Hira' di Bukit Tsur. Berhari-hari Rasulullah ada di sana dan Siti Khadijah sanantiasa mengantarkan perbekalan hidup sehari-hari (saat ini Gua Hira' ditempuh dalam waktu sekitar 4 Jam). Rasulullah mengadukan permasalahan kepada Allah dan memohon petunjuk-Nya, untuk Mengatasi masyarakat Quraisy di Mekah. Akhirnya tanggal 17 Ramadhan Rasulullah
menerima wahyu yang pertama, yakni surat Al-Alaq ayat 1 - 5.
                        
1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dakwah Rasulullah pada periode Mekah ini kurang menggembirakan. Selama 13 tahun masyarakat Mekah yang masuk lslam kurang dari 100 orang. Akan tetapi ditinjau dari segi kualitas (baik dari segi keimanan, semangat jihad, maupun ketahanan mental), hasilnya sangat membanggakan, hal ini terlihat dari kegigihan dan ketabahan mereka dalam menghadapi siksaan dan kekejaman orang-orang kafir Quraisy yang luar biasa.
Pada periode ini, dakwah Rasulullah diawali dengan mengubah akidah masyarakat dari penyembahan kepada berhala menjadi menyembah Allah yang Esa (paganism meniadi tauhid). lni merupakan sebuah perjuangan yang sangat berat mengingat penyembahan berhala sudah dilakukan sejak nenek moyang mereka. Pada awal dakwahnya Rasulullah menyiarkan agama Islam dengan cara sembunyi-sembunyi, agar tidak gagal di awal perjalanan.
Kebijakan dalam berdakwah perlu diambil untuk mencari peluang dakwah. Rasulullah mengambil kebijakan menghijrahkan setagian umat lslam ke Habsyi/Ethiopia sebanyak dua kali. Umat lslam diterima dengan baik dan diyakini kebenarannya oleh Raia Najasyi (Ethiopia). Akan tetapi untuk pengembangan lslam belum bisa dilakukan. Nabi juga pernah menjajagi untuk menyebarkan lslam ke Thaif, tetapi ditolak dengan kasar oleh masyarakat Thaif. Selanjutnya, Allah mengizinkan Rasulullah dan umat lslam untuk hijrah ke Madinah, dan ternyata membuahkan hasil yang menggembirakan. Umat lslam bisa diterima tidak hanya oleh umat lslam Madinah, tetapi iuga diakui oleh non-lslam, baik Yahudi maupun Nasrani.

4. Sejarah Dakwah Rasulullah pada Periode Madinah
Kedatangan Rasulullah dan kaum Muhajirin (umat, lslam Mekah) di Madinah disambut dengan baik bahkan sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat Madinah. Mereka memperlakukannya sebagaimana saudara, dibagikannya tanah, rumah dan harta yang dimilikinya untuk kaum Muhajirin Oleh karenanya masyarakat Madinah disebut sebagai kaum Anshar (penolong). Kedatangan Rasulullah sudah ditunggu-tunggu masyarakat Madinah karena diharapkan bisa mengatasi konflik antarsuku yang sudah menahun, yakni antara sirku Auz dan Khazraj yang mengakibatkan Perang Bu'ats yang berkepanjangan. Selain itu, ada sebagian masyarakat Madinah yang sudah memeluk agama lslam setelah adanya Baiatul Aqabah pertama (12 orang), yaitu 10 orang dari suku Khazraj dan 2 orang dari suku Aus. Baiat Aqabah kedua terjadi pada musim haji berikutnya (622 M). Ada 73 orang dari Yastrib yang masuk lslam dan sekaligus memohon agar Rasulullah hijrah ke Madinah. Umat lslam hiirah ke Madinah secara bertahap dan yang terakhir adalah Rasulullah bersama sahabatnya, Abu Bakar. Hal ini dilakukan setelah ada rencana jahat dari kafir Quraisy untuk membunuh Rasulullah. Oleh karena itu, Rasulullah pun mengatur strategi hijrah ke Madinah melalui jalan selatan, walaupun arah Madinah adalah utara Mekah ,selain itu, Rasulullah juga meminta sepupunya (Ali bin Abi Thalib) menggantikannya tidur di kamarnya untuk mengelabui orang kafir Quraisy yang berniat untuk membunuh beliau.
Didasari kepercayaan dan harapan masyarakat Madinah, maka dakwah lslam di Madinah bisa berjalan dengan lancar. Terjadilah perubahan yang mendasar mulai dari akidah, akhlak, dan hubungan kemasyarakatan (antarSuku), sehingga terciptalah keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, Hukum lslam mulai dikenalkan dan diberlakukan sanksi hukum bagi pelanggarnya. Piagam Madinah merupakan bukti keberhasilan Nabi dalam membina dan membangun , masyarakat madani, yakni kehidupan yang harmonis pada masyarakat yang heterogen dengan memperhatikan toleransi bagi sesama. Dari Madinah lslam mulai menyebar ke berbagai wilayah, baik melalui dakwah yang dilakukan oleh para sahabat maupun masyarakat luar yang berkunjung ke Madinah untuk mempelaiari agama lslam.

5. Pengaruh Dakwah Rasulullah SAW terhadap Umat pada Periode Mekah
Pengaruh dakwah Rasulullah pada periode Mekah terhadap umat ada dua hal. Pertama, bertambahnya umat lslam di Mekah, walaupun tidak cukup menggembirakan, persaudaraan dan persatuan umat lslam Mekah sangat kuat. Mereka saling tolong-menolong, saling menasihati, saling menghibur, dan saling menguatkan, sehingga umat lslam Mekah menjadi sangat kuat dan solid.
Kedua, kekejaman yang dilakukan kafir Quraisy terhadap umat lslam juga makin menjadi. Penyiksaan luar biasa diterima oleh umat lslam, apalagi yang berasal dari masyarakat kelas bawah (budak), mereka diperlakukan seperti bukan manusia. Puncaknya adalah adanya perjanjian yang mengisolasi umat lslam di suatu lembah dan tidak boleh berhubungan dan berkomunikasi dengan pihak luar. Akan tetapi Allah memberikan kekuatan lahir batin terhadap umat lslam, sehingga mereka tetap tahan dalam keterasingan dan kesengsaraan.

6. Pengaruh Dakwah Rasulullah SAW. terhadap Umat pada Periode Madinah
Dengan adanya dakwah Rasulullah SAW, masyarakat Madinah menjadi lebih tertata dan bersatu, ketenteraman dan keamanan terjaga, demikian pula kesejahteraan masyarakat meningkat. Tata kemasyarakatan dilakukan dengan adil sehingga terwujudlah suatu kehidupan masyarakat yang adil makmur dan damai "Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur”.

B. Substansi dan Isi Dakwah Rasulullah SAW pada Periode Mekah dan Madinah
1. Substansi dan Strategi Dakwah Rasulullah saw. di Mekah
Strategi dakwah Rasulullah di Mekah meliputl tiga hal, yakni:
a. Dakwah secara sembunyi-sembunyi
Rasulullah mulai berdakwah setelah 2 tahun kerasulannya, yakni setelah turun wahyu kedua (QS.Al.Muddatsir: 1 -7), yang memerintahkan Nabi untuk mulai berdakwah.
                     
1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. dan Tuhanmu agungkanlah!
4. dan pakaianmu bersihkanlah,
5. dan perbuatan dosa tinggalkanlah,
6. dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
7. dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.
Pada mulanya dakwah ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini
dilakukan untuk menghindari munculnya gejolak frontal yang terjadi di masyarakat. Dakwah ini dilakukan di seputar keluarga dan teman dekat Rasulullah, seperti Siti Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Attiq bin Usman, dan Abu Bakar. Selain itu, dakwah juga dilakukan di kalangan orang yang tertindas, seperti dari kalangan budak, yang pertama kali masuk lslam yaitu Zaid bin Haritsah. Dakwah ini berlangsung kurang lebih selama 3 tahun.

b. Dakwah secara terang-terangan
Dakwah secara terang-terangan menjadi ujian terberat bagi Rasulullah saw. dan pengikutnya. Dakwah terang-terangan pertama kali disampaikan kepada keluarga besarnya, yaitu Bani Hasyim, tetapi mereka tidak menggubris ajakan Rasulullah. Namun Rasulullah tidak putus asa, beliau justru berdakwah secara terbuka di Bukit Shafa. Beliau mengatakan kepada orang-orang Quraisy bahwa dirinya diutus untuk mengajak mereka meninggalkan berhala dan menegaskan bahwa Tuhan yang wajib disembah adalah Allah Yang Maha Esa. Reaksi bangsa Quraisy adalah marah karena Rasulullah diangap telah menghina tradisi dan kehormatan mereka, sehingga terjadilah permusuhan dan penyiksaan lahir batin dari bangsa Quraisy terhadap umat Islam.


c. Hijrah
Kekhawatiran Rasulullah atas keselamatan umat lslam di Mekah mendasari perintah dilaksanakannya hijrah. Hijrah yang pertama ke Habsyi (Ethiopia) diikuti oleh 15 umat lslam, dipimpin oleh Utsman bin Affan. Hijrah kedua juga ke Habsyi diikuti 80 umat lslam, dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib.
Masuknya Umar bin Khattab (tokoh Quraisy yang sangat dihormati) ke dalam agama lslam, sangat berpengaruh terhadap perjuangan dakwah lslam. Sayangnya tidak lama setelah itu, Siti Khadijah istri Rasulullah dan Abu Talib pamannya meninggal dunia. Hal ini mengakibatkan kaum Quraisy makin leluasa manyakiti Rasulullah. Namun, Rasulullah tidak berputus asa dan tetap menyampaikan dakwah kepada kabilah-kabilah yang datang berhaji di Ka'bah, antara lain suku Khazraj dari Madinah, yang akhirnya mau memeluk lslam dan merupakan cikal bakal umat lslam di Madinah. Mereka justru meminta Rasululrah berhijrah ke Yatsrib (Madinah).


2. Substansi dan Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah
Strategi dakwah yang digunakan Rasulullah saw. ketika berada di Madinah sangat berbeda dengan yang diterapkan di Mekah. Tentu saja hal itu disebabkan karena kondisi masyarakat Madinah dan Mekah sangatlah berbeda. Secara garis besar langkah dakwah yang dilakukan Rasulullah saw. di Madinah bermuara pada satu tuiuan, yaitu menciptakan perdamaian seutuhnya di bumi Madinah. Hal ini dapat kita lihat melalul tiga hal berikut.

a. Didamaikannya suku Aus dan suku Khazraj
Dalam lslam semua manusia adalah sama, yang membedakan seseorang dl sisi Allah hanyalah ketakwaannya. Dengan keyakinan baru ini, Nabi saw. telah menunjukkan kepada masyarakat Madinah bahwa lslam adalah agama anti diskriminasi dan juga antiperang. Tidak heran, banyak kalangan dari suku Aus atau Khazraj yang kemudian berbondong-bondong menyatakan keislamannya.

b. dipersaudarakannya kaum Muhajin dan Anshar
Dalam lslam, persaudaraan tidak boleh didasarkan atas kesamaan ras, suku, atau golongan. Akan tetapi, persaudaraan dalam lslam adalah persaudaraan yang dibangun atas dasar keseimanan kepada Allah swt., sehingga dalam ajaran lslam, setiap mukmin adalah bersaudara. Untuk itulah, langkah ini diambil Rasulullah saw. sebagai upaya mengikis rasa chauvinisme yang sangat mengakar di kalangan orang orang Arab pada umumnya. Dengan samangat wahdah al-lslamiyah, di Madinah tidak akan lagi dijumpai muslim Quraisy ataupun muslim Yatsrib. Di sana yang ada hanyalah kaum Muslimin yang terikat dalam keimanan dan tujuan sama, yakni Allah SWT

c. Disatukannya masyarakat Madinah melalui piagam Madinah
lngatkah kalian bahwa pertikaian berkepanjangan di Madinah (antara suku Aus dan suku Khazraj) tidak lain adalah hasil provokasi kaum Yahudi? Dengan melihat segala kemungkinan yang ada, Rasulullah kemudian berinisiatif untuk menerbitkan sebuah perjanjian yang melibatkan semua pihak di Madinah dengan tujuan agar perdamaian dapat tercipta secara adil dan bijaksana. Meskipun perjanjian itu lebih ditujukan untuk meredam manuver kaum Yahudi, tetap saja seluruh elemen masyarakat Madinah dituntut untuk terlibat aktif didalamnya. Dengan demikian Piagam Madinah telah berhasil mengubah masyarakat Madinah yang dahulu terkotak-kotak menjadi masyarakat yang bertanah air satu, berbangsa satu, yakni masyarakat al-Madinah al - Munawarrah,

lsi Piagam Madinah:
• Kaum Muslimin Madinah adalah satu umat, dan akan memerangi siapa pun yang melakukan kezaliman, kejahatan, dan permusuhan terhadap mereka.
• Kaum musyrikin Madinah tidak wajib melindungi harta dan jiwa kaum kafir Quraisy, tidak akan merintangi tindakan kaum mukminin atas mereka.
• Kaum Yahudi tetap pada agama mereka dan demikian pula dengan kaum Muslimin.
• Kaum Yahudi dari berbagai kabilah Yahudi di Madinah diperlakukan sama dengan orang-orang Yahudi Bani Auf.
• Setiap orang dijamin keselamatannya untuk meninggalkan atau menetap tinggal di Madinah, kecuali yang berbuat kejahatan
• Bahwasanya Allah-lah pelindung pihak yang berbuat kebajikan dan takwa.

C. Mengidentifikasi Hasil-hasil Perjuangan Rasulullah SAW dalam Dakwah Islam pada Periode Mekah dan Madinah
1. Hasil Perjuangan Dakwah Rasulullah di Mekah (belum di ketik hal 12)
Dakwah Rasulullah di Mekah telah menghasilkan umat Islam yang sangat militant dan solid. Hal ini disebabkan tekanan kafir Quraisy yang begitu kuat kepada umat Islam, sehingga mereka justru menjadi umat yang kuat, baik dari segi aqidah maupun mental perjuangannya. Strategi dakwah dengan cara sembunyi-sembunyi untuk mengantisipasi reaksi negative kafir quraisy dilakukan untuk membina kader-kader dakwah dengan sebaik-baiknya. Dimulai dari keluarga dekat, kemudian sahabat dekat, dan masyarakat kelas bawah sangat berpengaruh terhadap hasil yang dicapai. Mereka dengan sadar mau mau Islam dan menjadi pionir dalam penyiaran agama.

2. Hasil Perjuangan Rasulullah di Madinah
Di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. masyarakat Madinah hidup penuh kerukunan dan kedamaian. Hal ini tercipta karena segala aspek kehidupannya dilandasi oleh rasa persaudaraan antar masyarakat, antarsuku, dan agama. Hal ini terbentuk karena mereka telah mengalami pertikaian dan permusuhan antarsuku selama bertahun- tahun. Kerukunan yang dibangun Rasulullah dikuatkan dengan adanya Piagam Madinah. Mereka saling berjanji setia untuk tidak memerangi satu sama lain, menjaga kota dari serangan musuh, dan melindungi Rasuluhah saw. dari segala bahaya, saling menjamin kebebasan dalam mengamalkan ajaran agama masing-masing, dan membudayakan sikap toleransi.
Untuk mengatasi masalah ekonomi Rasulullah membentuk Baitul Mal, yang dananya diperoleh dari zakat, pertanian, perniagaan, dan ghanimah (rampasan perang)

D. Mengambil Ibroh dari Perjuangan Rasulullah SAW dalam Dakwah Islam pada Periode Mekkah dan Madinah untuk Kepentingan Masa Kini dan yang akan Datang
1. Ibroh dari Perjuangan Dakwah di Mekah
• Setiap perjuangan akan terasa ringan dan mudah apabila dilakukan dengan penuh keikhlasan dalam rangka beribadah kepada Allah. Hal ini sangat diperlukan oleh seorang dai/ulama/penyiar agama/guru ngaji pada masa sekarang. Tantangan dan hambatan semakin berat, maka diperlukan perjuangan yang bersandarkan pada keikhlasan dan keilmuan serta sikap tidak mudah putus asa dan tidak mudah berpaling.
• Dalam hidup harus selalu dihiasi dengan sifat dan sikap yang terpuji. Kehormatan dan kemuliaan seseorang tergantung pada sifat dan sikap yang dimilikinya. Demikian pula seorang dai harus senantiasa menjunjung tinggi sifat dan sikap tersebut agar kegiatan dakwahnya mendapatkan hasil yang baik.
• Dalam melakukan kegiatan dakwah parlu perencanaan yang matang dan cerdas agar upaya dakwah bisa berhasil dengan baik.
• dalam menyikapi masyarakat yang heterogen, harus pandai merangkul semua pihak, meskipun berbeda pandangan, paham dan keyakinan. Hal ini perlu dilakukan agar keberlangsungan dakwah tetap terjaga.
2. lbrah dari Perjuangan Dakwah di Madinah
Rasulullah dalam membina masyarakat Madinah selalu bersikap sabar dan berpikiran jernih dalam menghadapi situasi Madinah yang sangat plural. Dengan budi pekertinya, Rasulullah saw. menunjukkan beberapa sikap yang menjadikannya begitu disegani masyarakat Madinah dengan sikap toleransi, cinta damai, melindungi kaum lemah, murah hati, dan rela berkorban demi agama dan tanah air. Sikap itu tercermin ketika beliau menghadapi setiap permasalahan yang ada. Di Madinah Rasulullah berhasil menyatukan kaum Muhajirin dan Anshar, suku Aus dan Khazraj, dan memprakarsai Piagam Madinah yang isinya membuahkan persatuan, perdamaian, dan kekuatan serta kemajuan Madinah
Pada masa sekarang, kualifikasi seperti Rasulullah perlu disosialisasikan dan dipraktikkan dalam perilaku hidup, baik selaku pribadi maupun sebagai pelaku dakwah.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Penduduk Mekah sebelum Islam muncul menganut agama Watsani. Jelaskan apa yang dimaksud dengan agama Watsani?
2. Jelaskan karakter bangsa Mekah yang disebabkan pengaruh factor geografis!
3. Apa yang dimaksud dengan ‘Amul Khuzni?
4. Sebutkan isi Piagam Madinah yang kalian kethui?
5. Sebutkan salah satu sifat negtif bangsa Yahudi sejak zaman nabi!







BAB II
Kalifah adalah orang-orang yang mewakili umat dalam urusan pemerintahan serta dalam menerapkan hukum-hukum syara. Dengan kata lain, kalifah adalah orang-orang yang menggantikan Rasulullah dalam kedudukannya sehagai pemimpin dan kepala negara setelah beliau wafat. Jadi, kedudukan kalifah tidak untuk menggantikan Nabi Muhammad saw. sebagai nabi yang terakhir, tetapi hanya untuk melanjutkan tugas-tugas kenabian. Kalifah pertama yang diangkat oleh umat lslam adalah Abu Bakar, dilanjutkan oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Dalam pengangkatan kalifah, Nabi tidak pernah memberiltan petunjuk proses dan model pemilihannya. Untuk itu, perlu diketahui proses dan model pemilihan pada masa Khulafaur Rasyidin untuk bisa dijadikan pedoman atau model atat/ pertimbangan dalam pemilihan pimpinan, masa sekarang ataupun masa yang akan datang.

A. Proses dan Model Pemilihan Kepemimpinan pada Masa Khulafaur Rasyidin
1. Proses dan Model Pemilihan Abu Bakar sebagai Kalifah
Nabi Muhammad saw. tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan mnggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat lslam setelah beliau wafat. Beliau menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum Muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah tidak lama setelah beliau wafat, jenazahnya belum dimaamkan. Sejumlah Tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul d Tsaqifah Bani Saidah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih sebagai menjadi pimpinan. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-nasing pihak sama-sama merasa€berhak sebagai pemimpin umat lslam. Namun, dengan semangat ukhuwah lslamiyah yang tinggi, akhirnya Abu Bakar terpilih secara aklamasi. Abu Bakar disebut Khalifah Rasulillah (pengganti Rasul) yang selanjutnya disebut kalifah saja.

2. Proses dan Model Pemilihan Umar bin Khattab sebagai Kalifah
Umar bin Khattab dicalonkan oleh Abu Bakar setelah ia mengadakan musyawarah dan konsultasi dengan beberapa sahabat utama dan menyampaikannya kepada umat lslam yang berkumpul di Masjid Nabawi. Pencalonan tersebut mencapat persetujuan mutlak dari umat lslam. Persetujuan tersebut dibuat dalam bentuk tertulis, yang ditulis oleh Utsman bin Affan. Berdasarkan surat pengangkatan itu, setelah Abu Bakar wafat, Umar bin Khattab dibaiat oleh kaum Muslimin di Masjid Nabawi sebagai pengganti Abu Bakar. Umar diberi gelar Khalifatu Khalifati Rasul Allah (kalifah dari kalifah Rasulullah). Akan tetapi, Umar tidak menyukai gelar tersebut, ia menyebut dirinya Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang yang beriman).

3. Proses dan Model Pemilihan Utsman bin Affan sebagai Kalifah
Utsman bin Affan dipilih oleh "Dewan Syura" atau formatur yang dibentuk oleh Umar bin Khattab yang beranggotakan 6 (enam) orang sahabat utama, yaitu Ali bn Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqash, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Tim ini bertugas untuk memilih salah seorang di antara mereka untuk ditetapkan sebagai khalifah. Tim ini dibentuk oleh Umar bin Khatab, yang ketika sakit didesak oleh para sahabat untuk menunjuk penggantinya. Bahkan, saat itu ada yang mengusulkan untuk menunjuk putranya, Abdullah bin Umar. Akan tetapi, Umar bin Khattab menolak dengan memberikan jawaban, "Demi Allah aku tidak suka dengan cara ini. Aku tidak mengnendaki dari keluargaku dalam urusan kamu ini sekalipun yang diusulkan itu baik. Cukuplah seorang dari keluarga Umar mendapat kehormatan menjadi khalifah." la juga mengatakan, “lngatlah jika aku menunjuk seseorang untuk menjadi pergganti, sungguh cara demikian telah dilakukan oleh orang yang lebih baik daripadaku (maksudnya Abu Bakar). Akan tetapi, jika aku meninggalkan cara demikian (tidak menunjuk seseorang), maka cara demikian telah dicontohkan pula oleh orang yang lebih utama daripadaku (maksudnya Rasulullah)."

4. Proses dan Model Pemilihan Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah
Diakhir kepemimpinan Utsman bin Affan, sebagian rakyat kecewa atas kepemimpinannya yang dirasa merugikan rakyat. ltu disebabkan Utsman banyak mengangkat sanak keluarganya sebagai pejabat negara. Kebijakan pemerintah dirasakan kurang berpihak kepada kepentingan rakyat, sehingga rakyat merasa tidak puas. Akhirnya terjadi pemberontakan yang berakibat dengan terbunuhnya Utsman bin Affan. Ali bin Abi Thalib dipilih oleh kaum pemberontak setelah Utsman terbunuh. Kelompok ini sebelumnya menemui penduduk Madinah agar memilih pengganti Utsman dan mereka mengusulkan Ali bin Abi Thalib. Sebetulnya ,Ali bin Abi Thalib menolak dan mengusulkan Thalhah dan Zubair, tetapi para pemberontak tetap memilih Ali bin Abi Thalib. Setelah enam hari kematian Utsman dan mendapatkan desakan, akhirnya Ali bersedia menjadi kalifah

B. Strategi Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin
Adapun isi materi mengenai strategi kepemimpinan Khulafaur Rasyidln sebagai berikut.
1. Strategi Kepemimpinan Abu Bakar ( 632 - 634 M)
Pada awal pemerintahannya, Abu Bakar menegakkan prinsip-prinsip agama, yakni; pemberantasan nabi palsu, memerangi orang yang tidak mau membayar zakat, dan memerangi orang-orang yang murtad, termasuk menangani suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk lagi kepada kepemimpinan lslam di Madinah. Abu Bakar juga memperluas dakwah Islamlyah ke wilayah lain, Khalid bln Walid dlkirim ke lrak (694 M),
sedangkan Abu Ubaidah, Amr bln Ash, Yazid bln Abi Sofyan, dan Syurahbil ke Syiria. Sebelumnya Nabi Juga telah mengutus Usamah bin Zaid yang masih berusia 18 tahun.
2. Strategi Kepemimpinan Umar bin lKhttab (13 - 23 H / 634- 644 M)
Perluasan kawasan dakwahnya sampai ke Syiria, Byzantium, Mesir di bawah pimpinan Amr bln Ash; lrak dl bawah pimpinan Sa'ad bln Abi Waqash; Persia dan Mosul, Mengingat wilayah Islam sudah sangat luas, maka diperlukan tatanan administrasi yang memadai, Oleh karenanya, Umar segera mengatur dengan meniru admistrasi Persia yang sudah sangat maju. Kekuasaan pemerintahan di bagi menjadi beberapa provinsi dan dibentuk departemen-departemen. Demikian juga diatur system penggajian dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam upaya pemisahan lembaga yudikatif dan eksekutif. Umar bin Khattab juga membuat penanggalan Islam yang berdasarkan pada hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah.
3.Strategi Kepemimilnan Utsman bin Affan (644- 655 M) ,
Pada masa kepemimpinan Utsman bin Affan, wilayahnya sampai ke Tabaristan, Azerbaizan dan Armenia. Setelah dibangunnya armada laut, maka dikuasailah wilayah Asia kecil, Pesisir Laut hitam, pulau Cyprus, Rhodesh, Tunisia, dan Nubia. Pada masa Utsman, pembukuan Al-Quran telah selesai, ditulis sebanyak enam buah. Utsman memimpin selama 12 tahun. Ia meninggal karena dibunuh oleh para pemberontak dari Mesir yang tidak puas atas kepemimpinannya yang dipandang terlau family system dan dianggap membiarkan keluarganya untuk bertindak kurang adil.
4.Strategi Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib mendapakan warisan permasalahan yang cukup berat. Ia harus menuntaskan kasus pembunuhan Utsman dan mengatasi para pejabat yang koup. Kebijakan Al bin Abi Thalib dengan memecat para pejabat korup dan belum menuntaskan kasus pembunuhan Usman menuai reaksi pelawanan terhadap Al, sehingga terjadi perang Jamal (melawan Aisyah, Thalhah, dan Zubair) dan perang Shffin (melawan Muawiyah). Umat Islam pecah menjadi beberapa golongan setelah terjadinya arbitrase antr Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, yakni golongan Muawiyah, golongan Syiah, dan golongan Khawarij.

C. Ibrah dari Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin untuk Kepemimpinan Masa Kini dan yang akan Datang
1. Ibrah Kepemimpinan Abu Bakar
Ada dua hal yang dilakukan Abu Bakar ketika memerintah yang hanya dua tahun, yakni penguatan sumber daya manusia (umat lslam, rakyat) dan perluasan wilayah lslam. Ketegasan Abu Bakar dalam menyikapi penyelewengan ajaran agama, seperti nabi palsu, orang yang tidak mau membayar zakat, dan orang-orang yang murtad adalah suatu upaya untuk membangun sumber daya manusia yang kuat, taat, disiplin dan bertanggung jawab.
Ketegasan Abu Bakar dalam memerangi nabi palsu, ingkar zakat serta orang murtad merupakan langkah awal yang sangat tepat. Apabila dikaitkan dengan masa sekarang, maka kepemimpinan Abu Bakar ini bisa dijadikan pijakan langkah mengatasi menjamurnya nabi palsu (Mirza Ghulam Ahmad, Ahmad Musadeq, Lia Aminuddin, dan lain-lain). Demikian pula orang yang bakhil tidak mau mambayar zakat, pajak, justru merekayasa laporan kekayaannya agar terhindar dari pajak, merupakan hal yang biasa kita temui di masyarakat kita. Demikian pula, gelombang pemurtadan yang semakin mengkhawatirkan, apabila tidak ditindak tegas akan merusak ajaran lslam dan merapuhkan parsatuan umat lslam.
Perluasan wilayah lslam yang dilakukan Abu Bakar semata-mata untuk menyebarkan lslam ke seluruh negeri, agar masyarakat luas mengenal lslam sebagai ajaran yang akan menyelamatkan manusia dari kesengsaraan hidup di dunia maupun di akhirat. Merupakan tantangan para dai, mubaligh, dan tokoh agama untuk melakukan hal yang sama, menyebarluaskan agama lslam ke seluruh pelosok negeri.
3. Ibrah Kepemimpinan Umar bin Khattab
Pelajaran yang dapat diambil dari kepemimpinan Umar bin Khattab adalah sifat amanah dalam menjalankan tugasnya. Tugas adalah tanggung jawab dan amanah yang harus ditunaikan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dan ada suatu keyakinan bahwa setiap amanah pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Hal ini terlihat ketika ia sedang melakukan inspeksi untuk melihat kondisi rakyatnya, ia menemukan seorang janda yang sedang merebus batu untuk menghibur anaknya yang kelaparan. Umar merasa sangat berdosa, maka ia segera istighfar, merasa malu dan sangat takut kepada Allah. la langsung mengambil gandum yang dlpikulnya sendiri untuk diberikan kepada janda tersebut. Demkian juga masalah pemerintahan, ditangani secara profesional. Ia tidak segan-segan belajar dan mengadopsi sesuatu yang lebih baik, contohnya system aadministrasi negara yang dicontohnya dari Persia karena Persia sistem administrasinya sudah sangat maju.
Beliau juga memisahkan antara kekuasaan eksekutif dan yudikatif, agar penguasa tidak bisa semena-mena dalam memerintah, tetapi ada batasan dan aturan yang harus ditaati. Sikap kepemimpinan seperti Umar bin Khattab ini sangat dibutuhkan pada masa sekarang, pemimpin yang amanah, bertanggung jawab, berpihak pada kepentingan rakyat, bersih dan berwawasan ke depan, Dengan demikian negara yang dipimpinnya bisa tertib, maju, kuat, sejahtera, aman, dan tenteram.
4.Ibroh Kepemimpinan Utsman bin Affan
Utsman bin Affan memerintah ketika berusia tujuh puluh tahun. Pada awalnya pemerintahannya berjalan baik, sayangnya pada paruh akhir pemerintahannya, beliau dianggap kurang mampu memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Hal ini dikarenakan para pejabatnya banyak yang korup. Walaupun Utsman bin Affan tidak melakukannya, sebagai kalifah ia bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan rakyat.
lbroh yang dapat dipetik dari kepemimpinan Utsman bin Affan sebagai berikut:
a. Seorang pemimpin harus tegas dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan.
b. Apabila ada yang melanggar, maka harus segera diingatkan atau diberi sanksi agar tidak berkelanjutan.
c. pimpinan pemerintahan sebaiknya tidak terlalu tua, sebab akan berpengaruh pada kualitas kepemimpinannya
Apabila dikaitkan dengan masa sekarang, ada beberapa persamaan yang seyogyanya berkaca repada peristiwa Kalifah Utsman. Sekarang korupsi merajalela pelakunya lebih kuat dan berani daripada yang menumpasnya. Apabila hal ini dibiarkan, maka akan terjadi hal-hal yang tldak diinginkan dan akan menyengsarakan rakyat.
5.Ibrah Kepemimpinan Ali bin Abi Thalib
Di antara sifat-sifat Kalifah Ali bin Abi Thalib yang sangat berpengaruh dalam menjalankan roda pemerirtahannya adalah sifatnya yang pemberani dan tegas dalam melaksanakan sesuatu, di samping rasa keadilan yang ingin beliau wujudkan. Diantaranya adalah penggantian gubernur yang diangkat oleh Utsman bin Affan, karena dinilai kurang berpihak kepada kepentingan rakyat. Akibatnya, beliau mendapat tantangan dari berbagai pihak yang merasa dirugikan, sehingga terjadilah Perang Jamal dan perang Shiffin.
Adapun ibrah yang dapat dipetik dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib sebagai berikut:
a. persatuan umat lslam harus senantisa dijaga, jangan terperdaya oleh emosi.
b. Masalah potitik harus dltakukan dengan etika, tidak culas dan harus bersih dari nafsu serakah.
c. Kebenaran perlu ditegakkan dengan tegas.
d. Umat lslam harus pandai agar tidak ditipu dan dipemnainkan orang lain.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1. Apa sebabnya pada awal kepmimpinannya, Abu Bakar melakukan pmbrantasan nabi palsu?
2. Jelaskan pengertian Khulafaur rasyidn?
3. Apa yang dlakukan pada masa Khulafaur Rasyidin?
4. Apa sebab Umar mengusulkan penulisan Al Quran?
5. Sebutkan 2 prestasi yang telah dihasilkan pada masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin!




BAB III
Perkembangan Islam
Periode Klasik
A. Islam Pada Masa Klasik
Secara umum periode klasik meliputi dua masa, yaini masa kekuasaan Dinasti Umayyah dan masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Periode klasik ini mencerminkan kemajuan umat islam dalam berbagai bidang, bidang politik dan pemerintahan, militer, social seni dan budaya serta ilmu pengetahuan. Dinasti Umayah diwakili kekuasaan Islam diCordova Andalusia dan kekuasan Dinasti Abbasiyah. Cordova dan Baghdad pada saat itu merupakan pusat peradaban dunia yang bersinar sampai ke penjuru Eropa.
1. Dinasti Umayyah 661-750 M
a. Sejarah dinasti Umayah
Periode klasik diawali sejak berdirinya Dinasti Umayyah di Damaskus (661M). Dinasti ini didirikan oleh Muawiyah bin Sofyan setelah ia merebut kekuasaan dari ali bin abi Tholib melalui proses tahkim (658 M). Tahkim dimulai dengan dilaksanakan perundingan menentukan utusan masing masing pihak, yakni Ali mengutus Abu musa al Asyari dan pihak Muawiyah mengutus Amru bin Ash. Pada perundingan tersebut, pihak muawiyah yang diwakili Amru bin Ash menghianati hasil kkesepakatan bersama, dengan menyatakan bahwa telah disepakati untuk menurunkan Ali dari jabatan Khalifah, sedang muawiyah tetap pada posisinya.
Pada tahun 40 H/660 M Ali bin Abi Thalib wafat dibunuh oleh kaum Khawarij. Namun berkat kecerdikan Muawiyah, ia akhirnya dapat merebut kekuasaan dari Hasan bin Ali dangan cara diplomasi. Maka pada tahun 40 H/660M di liya, Yerusalem, M Dinasti Umayah memerintah selama 90 tahun dengan mempergunakan sistim monarki (keturunan), berbeda dengan pemilihan sebelumnyan yang menggunakan sistim Musyawarah. Dinasti ini dipimpin dengan 14 Khalifah, yang diawali khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan dan berakhir pada pemerintahan Marwan II bin Muhamad.
Dalam menjalankan roda pemerintahan tidak semuanya mempunyai peran besar dalam peradaban islam. Ada 4 (empat) Khalifah yang dianggap paling berjasa yakni muawiyah I, Abdul Malik, walid I, dan Umar bin Abdul Aziz.
Pada masa pemerintahan walid bin Abdul malik, dia bias mengembangkan kekuasaan islam sampai Eropa (Andalusia) dan mencapai puncak peradaban sehingga menjadi mercusuar peradaban dunia.

b. Perkembangan peradaban islam pada masa Dinasti Umayah
Kepala Negara disebut kalifah atau Amirul, ia tidak dipilih rakyat melainkan Diwariskan cecara turun menurun. Ia dibantu para mentri dan sekertaris. Setiap propinsi dipimpin oleh seorang amir (gubernur). Pada masa muawiah dibanntu diwanul hijabah (pengawal kalifah), Diwanul Khatam (pencatat, Administrasi Negara), Diwanul barid (dinas Pos), dan Shahibul Khrraj (petugas pemunggut pajak), Diwanul Barid (Departemen persuratan), Diwanul Mustaghilat (Departemen penerimaan Negara). Pada masa khalifah Marwan, bahasa arab ditetapkan sebagai bahasa Administrasi, yang sebelumnya menggunakan bahasa Persia dan bahasa romawi. Pada masa kalifah Abdulmalik bin Marwan, telah mempunyai mata uang sendiri, yakni dinar (emas) dan dirham (perak), yang sebelumnya menggunakan mata uang romawi dan Persia. Pada masa Dinasti Umayah, tepatnya masa kalifah al-walid bin Abdul Malik, Islam bis masuk eropa dengan menguasai Andalusia.
Adapun perluasan wilayahnya meliputi sungai Oxus bagian barat india sampai ke Punjab dan Lahore. Sebelah utara sampai dengan pulau Rodhes (672), Creta Algeris,Tlemcen, Tangiers, dan Spanyol.
Didalam ilmu agama (ulum al diniah) sudah berkembang, diantara tafsir, hadis, fiqih, ilmu kalam,dan Sirah.
2. Dinasti Abbasiyah
Pemerintah Dinasti Abbasiah didirikan pada tahun 132H/750M, Merupakan kelanjutan dari pemerintah Dinasti Umayah yang telah berakhir di Damaskus. Dinasti Abbasiah didirikan oleeh keturunan Abbas .Paman Nabi Muhamad Saw. Yang berpusat diBagdad selama lima bad dengan 34 kalifah. Kalifah pertama adalah Abu Abbas “Assaffah” merintah selama empat tahun, kemudian digantikan oleh Abu ja’far al mansyur (754-774). Ia dikenal sebagai politikus yang sangat demokratis, pemberani cerdas, teliti,disiplin, kuat beribadah, sederhana, fasih dalam berbicara, sangat dekat dengan rakyat. Islam pada periode ini mengalami kemajuan yang luar biasa, Khususnya pada masa Harun Al Rasyid dan putranya al-Makmun. Kemajuan itu dibuktikan antara lain dengan didirikannya sebuah akademi pertama lengkap dengan pusat peneropongan bintang, perpustakaan terbesr, dan dilengkapi lembaga penerjemah. Demikian pula di seluruh wilayah didirikan madrasah-madarasah mulai dari tingkat rendah,menengah dan perguruan tinggi yang meliputi berbagai bidang ilmu pengetahuan, sehingga umat Islam mengalami kemajuan diberbagai bidang, mulai dari politik, agama dan kebudayaan juga pusat kebudayaan, juga pusat perdagangan terbesar di dunia saat itu.
Pada dinasti Abbsiah, luas wilayah islam sampai asia tengah dari perbatasan India hingga cina. Pada tahun 165 H berhasil memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irine menyerah dan berjanji membayar upeti.
Kebijakan dinasti abbasiyah antara lain sebagai berikut :
a. Memindahkan ibu kota dari Damaskus ke Bagdad.
b. Memusnahkan keturunan bani Umayyah.
c. Merangkul orang-orang Persia untuk memperkuat pemerintahan dan member ke sempatan yang lebih kepada kaum Mawali.
d. Menghapus politik kasta.
e. Kebebasan berpikir dan berpendapat mendapat porsi yang tinggi.
B. Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa penting dan tokoh-tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode Klasik .
1. Penaklukan Eropa (Andalusia) atas jasa tiga pahlawan Islam, yakni Musa bin Nashair (Gubernur Afrika Utara), Tharif bin Malik (perintis), dan Thariq bin Ziyad yang dikenal sebagai sang penakluk Andalusia.
2. Abdurrahman Ad-dakhil yang disebut Faunding Father, peletak dasar kebangkitan kebudayan di Andalusia, dengan pendirian perguruan tinggi dan lembaga ilmiah.
3. Abdurahman An-Nashir, kalifah bani Umayyah di Andalusia yang dapat membawa kejayaan islam didunia, menjadikan Cordova dilengkapi dengan perpustakaan dengan ratusan ribu buku karya umat Islam, serta digiatkannya gerakan penerjemahan buku-buku dari bahasa yunani kedalam bahasa Latin dan Arab.
4. Kalifah Harun al-Rasid dan Kalifah al Makmun mendirikan akademi/perguruan tinggi dengan fasilitas perpustakaan, sarana peneropongan bintang, dan forum penerjemahan buku-buku berbahasa yunani kedalam bahasa Arab.

C. Mengambil Ibrah dari perkembangan Islam pada periode Klasik untuk kepentingan masa kini dan yang Akan Datang.
Perkembangan Islam pada periode klasik meliputi perkembangan pada masa Dinasti Umayah, baik yang ada di damaskus maupun Kurdova, serta Dinasti Abbasiyah.
1. Ibrah yang dapat diambil dari Dinasti Umayyah I antara lain sebagai berikut :
• Sistem monarki yang digunakan Dinasti Umayyah menyebabkan terjadinya persaingan antar anggota keluarga Istana. Selain itu,system Monarki yang tidak mempertimbangkan usia,kemampuan, dan pengalaman, beerakibat pada ketidak cakapan dalam memimpin dan pengelolaan pemerintah,sehingga pemerintah manjadi lemah.
• Adanya persaingan antara Arab Mudariya (Arab Utara)dan Arab Himyariyah (Arab Selatan) menambah permasalahan dalam negeri.
• Adanya diskriminasi terhadap kaum mawali (muslim non arab) dan kaum Syi’ah menyewbabkan dendam yang berkepanjangan dan perlawanan terhadap pemerintah.
2. Adapun Ibrah masuknya islam di Andalusia antara lain sebagai berikut.
• Terjadinya Islamisasi yang terjadi tidak hanya diwilayah Andalusia, tetapi juga didataran Eropa dan terus berkembang keselurus dunia. Islamisai tersebut diiring dengan kemajuan kemajuan diberbagai bidang, terutama bidang ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, serta seni bangunan yang tersebar diseluruh negri Andalusia. Kemajuan dibidang pendidikan ilmu pengetahuan dan sains, telah mampu menyedot perhatian dunia, Khususnya eropa berbondong-bondong memasuki perguruan-perguruan tinggi di Toledo, Granada, dan dikota kota lain untuk mengadopsi ilmu yang sangat melimpah di Andalusia. Masyarakat Eropa juga meletakan penerjemahan buku-buku karya umat Islam kedalam bahasa mereka, Agar masyarakat Eropa lebih banyak yang dapat mengakses ilmu yang mereka bawa dari Andalusia.
3. Kemajuan yang begitu pesat pada masa Dinasti Abbasiyah diberbagai bidang kehidupan tidak bisa lepas dari perhatian para khalifah yang begitu besar terhadap ilmu pengetahun dan teknologi serta kemakmuran rakyatnya,sehingga Bagdad sebagai ibukota,menjadi pusat kebudayaan dan perdagangan dunia.
• Memperhatikan kemajuan yang begitu pesat diberbagai bidang tersebut, sudah seyogyanya umat islam sekarang mempunyai kebanggaan atas prestasi terasebut dan meniru semangat para tokoh, ulama dan Cendikiawan masa Klasik dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan sains. Umat islam sekarang harus merasa tertantang untuk terpacu dengan prestasi, semangat,dan perjuangan umat islam masa klasik. Jangan sampai islam yang dicitrakan oleh orang-orang Barat sebagai umat yang malas, senang perang, terbelakang,kumuh, teroris, dan miskin menjadi suatu kenyataan.

D. Meneladani Tokoh yang berprestasi dalam perkembangan Islam pada periode Klasik.
1. Tokoh-tokoh Filsafat:
• Abu Ishak Al Kindi. Selain dikenal sebagai filosof, Abu Ishak Al kindi juga dikenal sebagai ilmuwan di bidang fisika, kimia, astronomi, meteorologi, kedokteran dan matematika. Ia telah menulis 265 karya, seperti Risalah fi madkhal al mantiq bi istifa al qawi (filsafat).
• Ibnu Rusyd. Selain seorang filosuf ,Ibnu Rusyd juga seorang dokter dan ahli hokum islam.Kitab fikihnya yang terkenal Bidayatul Mujtahid ,karya filsafatnya Tahafut at Tahafut dan Tahafut al falasifah. Ia adalah pengikut Aristoteles yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam.
• Ibnu Sina Beliau seorang filosuf,juga ahli dalam bidang kedokteran. Karya filsafatnya yang terkenal Kitab Asy Syifa (buku tentang penyembuhan) yang berisi tentang logika,fisika dan metafisika. Karya di bidang kedokteran berjudul “Qanun fit Tibb (undang undang kedokteran).
• Alfarabi dan al Ghazali Diberi gelar Hjjat al Islam, karyanya “Ihya Ulumuddin”,Maqosid al falasifah dll.
• Abu Bakar Ibnu Thufail Abu Bakar Ibnu Thufail lahir di Wadi Asy timur Granada. Banyak menulis buku tentang kedokteran,astronomi,dan filsafat. Karangan filsafatnya “Hay Ibnu Yaqzan”.
• Abu Bakar Muhammad Ibnu Sayyigh. Dikenal dengan nama Ibnu Bajjah lahir di Saragosa. Magnum opusnya adalah “Tadbir Al Mutawahid”.

2. Bidang Kedokteran
• Ar Razi. Prestasi Kedokteranya adalah yang terbaik pada zamanya. Ia telah menulis 200 buku ,antara lain al Hawi berupa ensiklopedia penobatan yang terdiri 20 jilid.
• Ibnu Sina,Ibnu Rusyd, Ar Razi juga ahli kedokteran.
3. Bidang Matematika Al Khawarizmi, Ia mengarang kitab Al Gebra (al Jabar), menemukan angka 0 (nol), sedangkan angka 1,2,3,4,5,6,7,8,9 disebut juga angka Arab.
4. Bidang Farmasi dan Kimia, Ibnu Baithar. Karyanya Al Mughni(obat-obatan), Jami’ Al Mufrodat al Adawiyah wa Aghziyah ( obat-obatan dan makanan bergizi)
5. Ilmu perbintangan.
a. Abu Mansur al Falakia
b. Jabir al Bataniy
c. Rayhan al Bairuniy
6. Bidang Politik dan Sosial
Ibnu Khaldun
Merupakan tokoh ahli bidang politik, kedokteran, dan sekaligus ahli sejarah dan social. Karya beliau yang sangat terkenal adalah Muqoddimah, yang berisi tentang teori sosiologi.
Tokoh filsafat dan cendikiawan Islam masa klasik di atas hanya merupakan sebagian kecil yang dimunculkan. Masih banyak lagi tokoh-tokoh lain yang perlu diketahui.

E.Sikap yang perlu diteladani dari para Tokoh dan Cendikiawan pada Periode Klasik
Adapun sikap yang perlu diteladani dari para tokoh dan cendikiawan masa klasik sebagai berikut:
• Ketekunan, kecerdasan, dan kreativitas mereka dalam menuntut ilmu, mengolah, dan mengembangkannya menjadi beberapa karya mereka.
• Kemampuan menuangkan ilmunya dalam tulisan, yang dapat diakses oleh masyarakat luas dan dari generasi ke generasi termasuk generasi sekarang, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh umat sepanjang zaman.
• Para filosof dan cendekiawan tersebut, selain menguasai ilmu di bidangnya masing-masing, juga sangat menguasai ilmu agama, minimal ilmu Alquran dan hadis, di samping ilmu agama lainnya. Hal ini yang sekarang jarang kita temui, seorang tokoh yang ahli di bidang agama sekaligus ahli di bidang lainnya, atau sebaliknya. Hal ini mendasari arah ilmu yang dikembangkannya yang senantiasa terbimbing oleh sinar Alquran, sehingga ilmu tersebut bermanfaat bagi umat.
Secara umum tokoh-tokoh di atas telah berjasa menyemarakkan khasanah ilmu pengetahuan dunia dan menunjukkan lslam sebagai agama yang berkemajuan, tidak seperti yang dicitrakan selama ini.






















BAB IV
PERKEMBANGAN ISLAM PADA PERIODE PERTENGAHAN (1250-1800M)
lslam pernah mengalami zaman keemasan di masA lalu. Banyak sekali peninggalan-peninggalan sejarah yang bisa ditelusuri untuk dijadikan bukti kejayaan lslam masa lalu tersebut. Di tengah pertikaian internal umat lslam khususnya di tingkat elit saat itu pemerintahan Islam masih bisa memikirkan cara untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, kebudayaan, politik dan keagamaan. Bahkan, perkembangan keilmuan lslam saat itu dijadikan kiblat peradaban Eropa. Sayangnya umat lslam saat itu tidak mampu mempertahankan kejayaannya lebih lama lagi, sehingga akhirnya kejayaan lslam harus tergelincir dan tenggelam dari percaturan dunia.
Sekarang saatnya umat Islam untuk belajar dari kejayaan dan sekaligus kesasaran masa lalu untuk mengambil ibrah-nya. Tiada kata terlambat, saatnya umat lslam untuk bangkit dan maju, dengan ilmu baru, strategi baru, dan semangat baru meraih kembali kejayaan masa lalu.

A. Kemunduran Islam pada Periode Pertengahan
Dinasti Abbasiyah dianggap sebagai representasi kejayaan lslam sekaligus titik tolak kemunduran lslam. lmperium yang pernah berdiri selama ±500 tahun tersebut telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban lslam, baik di bidang sosial, politik, ekonomi dan budaya.
Kejayaan lslam ditandai dengan ditemukannya banyak karya yang dihasilkan ilmuwan lslam dan menjadi cikal bakal munculnya beberapa keilmuan yang berkembang saat ini.
Misalnya ilmu kedokteran yang dikembangkan Ibnu Sina, ilmu sejarah Ibnu Khaldun, astronomi oleh Al-Farabi, filsafat oleh lbnu Rusyd, dan sebagainya. Akan tetapi, kejayaan ini tidak seterusnya dapat dipertahankan. Pada tahun 850 M mulai muncul bibit-bitiit kemunduran. Kemunduran yang terjadi pada Dinasti Abbasiyah banyak disebabkan oleh beberapa persoalan internal seperti berikut:
1. Perebutan kekuasaan antara Abbasiyah dan Awwaliyah.
2. Melemahnya tenaga pembela (ashabiyah) sebagai pengawalnya.
3. Lemahnya nilai-nilai amanah dalam semua aspek, sehingga banyak pejabat yang korup.
4. Eksploitasi dan pajak berlebihan yang dibebankan kepada rakyat
5. Garis perpecahan Arab dan non-Arab, Muslim Arab-Muslim Ajam dan Muslim kaum Dzimmi.
6. Pertikaian para pasukan yang terdiri dari orang-orang Turki, Persia, dan Arab.
7. Banyak munculnya sekte-sekte yang kemudian berafiliasi dengan gerakan politis untuk melanggengkan kekuasaan.

Contoh-contoh kemunduran lslam pada periode klasik sebagai berikut:
• Di bidang politik. Banyaknya kerajaan-kerajaan kecil yang memisahkan diri dari pemerintah pusat.
• Lepasnya wilayah-wilayah kekuasaan lslam, antara lain sebagai berikut:
a. Jatuhnya Bagdad ke tangan bangsa Mongol tahun 1258
b. Jatuhnya Cordova ke tangan kaum Nasrani (Raja Ferdinand dan lsabella)
c. Jatuhnya Transoxania dan Khawarizm 1219.
d. Jatuhnya Kerajaan Ghazni tahun 1221.
e. Jatuhnya Azerbaijan ke tangan Mongol 1223
f. Jatuhnya Saljuk di Asia Kecil tahun 1249.
• Hancurnya bukti fisik kemajuan lslam di bidang iimu pengetahuan dan teknologi dengan dbakarnya buku karya umat lslam di berbagai perpustakaan oleh bangsa Mongol.
• Tidak berkembangnya karya keilmuan disebabkan banyaknya para cendekiawan dan ulama yang meninggal ketika penyerbuan bangsa Mongol.

B. Kebangkitan Kembali Islam pada Periode Pertengahan
Setelah serbuan Mongol menghancurkan pemerintahan lslam di Baghdad, maka pada masa Pertengahan, mulai muncul kebangkitan lslam. Hal ini ditandai dengan munculnya tiga kerajaan besar, yaitu Kerajaan Usmani di Turki, Kerajaan Syafawi di Persia, dan Kerajaan Mughal di lndia. Walaupun ketiganya tidak mampu menandingi kebesaran Dinasti Umayyah ll di Andalusia dan Dinasti Abbasiyah di Baghdad, tetapi mereka berusaha untuk mengembangkan lslam di daerahnya masing-masing.
1. Kerajaan Usmani di Turki (1300 - 1922)
Dinasti Usmani didirikan oleh Usman, putra Ertugol dari Kabilah Oghuz di daerah Mongol. Mereka datang ke Turki untuk meminta perlindungan kepada penguasa Saljuk dari serangan orang-orang Mongol. Mereka membantu Sultan Alaudin ll berperang melawan Byzantium. Usman kemudian dipercaya menjadi panglima perang Dinasti Saljuk, menggantikan ayahnya. Setelah Sultan Alauddin ll wafat, ,Usman mengambil alih kekuasaan, dan sejak itulah berdiri Kerajaan Usmani. la memproklamirkan dirinya sebagai “Padisyah al Usman” (Raja Besar Keluarga Usman). Kerajaan Usmani wilayahnya semakin meluas dengan ditaklukkannya wilayah lain, seperti Azmir (1327), Tharasyanli (1330), lskandariah (1338), Ankara (1354), dan Gallipolli (1956).
Puncak kejayaan Kerajaan Usmani adalah pada masa Muhammad al Fatih, yang telah mampu mengalahkan Byzantium dan menaklukkan Konstantinopel tahun 1453.
Kemajuan Turki Usmani di bidang ilmu pengetahuan dan peradaban antara lain sebagai berikut:
a. Penulisan sejarah dunia dari Adam sampai dengan Yesus, sejarah lslam awal, sejarah bangsa Turki sampai dengan kebangkitan lmperium Usmani dan diakhiri dengan sejarah Usmani, oleh Mustafa 'Ali (1541 - 1599) dan Kunh al Akhbar.
b. Geografi, yakni penulisan atlas oleh Piri Rais dan Sayabat Name (buku pedoman perjalanan), berisi keterangan lengkap tentang berbagai perjalanan di seluruh pelosok lmperium Usmani dan pengamatannya tentang masyarakat dan ekonomi.
c. Manuskrip Festival lstambul oleh Shabinshabname (1581), Manuskrip Raja-Raja Usman oleh Arifi 1562.

2. Kerajaan Syafawi (1501 -1732M)
Syafawi adalah sebuah kerajaan lslam yang pernah berdiri di Persia (lran). Pada masa Pertengahan, kerajaan ini menjadi salah satu kerajaan besar di dunia lslam. Kerajaan ini didirikan oleh Syah lsmail I pada 907 H/1501 M di Tabriz. Syafawi berasal dari sebuah gerakan tarekat yang bernama Syafawiyah yang kemudian berubah menjadi suatu gerakan politik. Gerakan tarekat ini dipimpin oleh Syeh Syafiuddin lshaq dari keturunan imam Syiah ketujuh yang bernama Musa al Kadzim. Gerakan tarekat ini sangat militan, sehingga pada akhirnya memasuki wilayah politik dan pemerintahan.
Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan peradaban antara lain sebagai berikut:
a. Mendirikan sekolah teologi (Syiah) yang dibiayai oleh pemerintah dari sector pertanian
b. Tokoh-tokoh keilmuan, antara lain Bahauddin Muhammad bin Husai al Amili al-Jubba'i, Muhammad Baqir Astarabadi, Sadruddin Muhammad bin lbrahim Syirazi (Mullahadra), dan Muhammad' Baqir Majlisi.

3.Kerajaan Mughal (1526- 1857 M)
Kerajaan Mughal didirikan Zahiruddin Babur (1482-1530 M). Secara geneologis, Babur merupakan keturunan Timur Lenk (dari pihak ayah) dan keturunan Jenghis Khan , dari pihak ibu. Ekspansinya ke lndia dimulai dengan menundukkan penguasa setempat, yaitu lbrahim Loddy dengan bantuan Alam Khan dan Gubernur Lahore. Tahun 1525 ia berhasil menguasai Punjab dan meneruskannya ke Delhi 1526 M. Sejak itu, Babur dapat menguasai lndia dan mendirikan Dinasti Mughal yang beribukota di Delhi. Pada masa pemerintahan Akbar (cucu Babur), Mughal berhasil meluaskan wilayah-nya sampai ke Chundar, Ghond, Orisa dan Asingah.
Dinasti Mughal banyak memberikan sumbangan di bidang ilmu Banyak ilmuwan yang datang ke lndia untuk menuntut ilmu pengetahuan. Bahkan istana Mughal dijadikan pusat kegiatan kebudayaan. Hal ini karena adanya dukungan dari penguasa dan bangsawan serta ulama. Aurangzeb, penguasa Mughal telah menyumbangkan uangnya dan tanah dalam jumlah yang cukup besar untuk membangun pusat pendidikan di Lucknow.
Demikian pula dengan seni arsitektur bangunan, dapat terlihat adanya bangunah Taj Mahal di Agra yang dibangun oleh Shah Jihan khusus untuk istrinya Noor Mahal, Masjid Raya Delhi yang berlapis marmer, dan sebuah istana di Lahore.
Sastrawan Mughal yang terkenal adalah Malik Muhammad Jayashi dengan karyanya Padmavat yang berisi tentang kebajikan jiwa manusia, Abu Fadhl karyanya Akbar Nama dan Ain e Akhbari yang mengupas Mughal berdasarkan figur pemimpinannya.

C. Meneladani Perkembngan Islam Periode Pertengahan
lbrah yang dapat diambil dari perkembangan lslam periode pertengahan antara lain sebagai berikut:
1. Semangat mengembangkan lslam untuk memulihkan kejayaan lslam. Umat lslam sekarang harus banyak membaca sejarah prestasi umat lslam masa lalu agar dapat meniru semangat dan kerja keras yang mereka lakukan untuk memajukan lslam.
2. Kekuasaan yang diberikan bukan dijadikan alat untuk menguasai aset-aset masyarakat, tetapi untuk memakmurkan masyarakat. Kebijakan ini sangat relevan dengan kondisi pemerintahan sekarang. Ada sebagian penguasa yang masih kurang peduli dan tidak berpihak kepada kepentingan rakyat, bahkan mereka mengambil hak-hak rakyat dengan cara korupsi.
3. Mengembangkan lslam secara kaffah, tidak hanya pada satu aspek saja misalnya hanya ibadah ritualnya saja, tetapi juga menyentuh ajaran lainnya, termasuk semangat kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. lslam sebagai agama yang berkemajuan harus diimplementasikan sesuai dengan ruhnya. Sarana dan prasarana sekarang jauh lebih maju dari pada masa itu. Oleh karena itu, sudah saatnya umat lslam berbuat yang sama dengan para tokoh-tokoh masa Pertengahan.
4. Semangat persatuan dan kesatuan yang dibina oleh tiga kerajaan besar (Usmani, Syafawi, dan Mughal), mampu mewujudkan kerajaan yang membanggakan. Semangat ini perlu dicontoh untuk mengatasi kemelut kebangsaan dan keumatan di lndonesia yang semakin memprihatinkan.
5. Semangat kerja keras dan pantang menyerah yang dilakukan bersama-sema rakyat dan pimpinan pada masa itu, telah membuahkan hasil yang gemilang. Hal ini mengajarkan kepada kita, jika ingin maju dan berhasil, maka harus bekerja keras dan bersama antara rakyat dan pimpinan.
6. Kreativitas dan ketekunan yang dimiliki para ilmuwan telah melahirkan berbagai karya di berbagai bidang. Sikap seperti itu yang harus ditiru dan dikembangkan oleh umat lslam di Indonesia agar lslam bisa duduk sama tinggi dengan lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar